Sejarah Bhayangkari Polda Kalimantan Selatan tidak dapat lepas dari kisah heroik Mathilda Batlayeri.
Seorang istri Polisi yang gugur bersama ketiga anaknya dalam
mempertahankan pos/asrama Polisi Kurau, Kabupaten Tanah Laut (dahulu
Kewedanaan Tanah Laut).
Pada tahun 1950-an di Kalimantan Selatan
terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Ibnu Hajar dengan nama
Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRyT). Gerakan Pengacau Keamanan (GPK)
KRyT senantiasa melakukan teror dan penyerangan kepada kampung-kampung
yang dilaluinya. Tak jarang terjadi penghadangan dan penyerangan
terhadap patroli-patroli tentara dan Polisi dengan tujuan merebut
senjata sebanyak-banyaknya. Bahkan GPK KRyT tak segan untuk menyerang
pos dan asrama militer/polisi.
Pada Rabu, 28 September 1953, dini
hari, gerombolan KRyT menyerangan pos/asrama Polisi Kurau yang termasuk
wilayah terdepan, mengingat wilayah Kurau merupakan Basis pertahanan
GPK KRyT. Dalam penyerangan tersebut, kekuatan GPK KRyT mencapai 50
orang yang dipimpin Suwardi. Mereka bersenjata api yang terbilang modern
pada saat itu dan beberapa memakai senjata tajam.
Serangan
mendadak di ambang fajar tersebut hanya dihadapi oleh lima orang anggota
Polisi bersenjata dan seorang Bhayangkari menggunakan senjata jenis
moser milik suaminya. Bhayangkari tersebut adalah Mathilda
Batlayeri, yang melibatkan diri dalam pertempuran dikarenakan melihat
kekuatan anggota Polisi yang tidak berimbang dalam pertempuran tersebut.
Suami
mathilda Batlayeri, AP II (Agen Polisi II) Adrianus Batlayeri, saat
pertempuran terjadi sedang mengambil air di sumur, namun karena
posisinya yang tidak memungkinkan untuk kembali ke Pos/Asrama, maka
Adrianus tidak dapat terlibat dalam pertempuran.
Dalam
pertempuran tersebut, GPK KRyT mengalami kesulitan untuk melumpuhkan
kekuatan Pos/Asrama Polisi Kurau. Bahkan Suwardi, pemimpin penyerangan,
yang konon memiliki ilmu kebal, tertembak oleh Mathilda Batlayeri.
Namun, tetap saja pertempuran tidak seimbang. Satu persatu kusuma bangsa
berguguran, termasuk ketiga anak dari Mathilda Batlayeri.
Anak
Mathilda yang tewas yaitu Alex (9 thn) & lodewijk (6 thn) yang tewas
di kamar asrama Polisi, yang mereka tempati dan Max (2,5 thn) tewas di
pelukan ibunya. Melihat ketiga anaknya telah tewas, membuat semangat
tempur Mathilda Batlayeri, seorang Bhayangkari semakin berkobar, akan
tetapi setelah bertempur kurang lebih satu setengah jam, akhirnya
Mathilda Batlayeri gugur sebagai kusuma bangsa bersama janin yang sedang
dikandungnya. Setelah tidak ada perlawanan lagi dari pihak Polisi,
maka GPK KRyT membumihanguskan Pos/Asrama Polisi Kurau. Jenazah
Mathilda dan ketiga anaknya turut terbakar dalam kobaran api tersebut.
Semangat
juang dan pengabdian yang tiada terkira Mathilda Batlayeri menjadi hal
yang patut dihormati dan dikenang. Untuk jasa-jasanya tersebut, atas
perintah Kadapol XIII Kaltengsel brigjend Pol. Drs. Moch. Sanusi (Mantan
Kapolri periode 1987-1991), pada 13 Agustus 1983 dibangun “Monumen Bhayangkari Teladan Mathilda batlayeri”
di Kurau dan selesai di kerjakan pada 15 Oktober 1983. Kemudian
bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 1983, monument tersebut
diresmikan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Bhayangkari Ny. Anton
Soedjarwo (isteri Kapolri Jenderal Polisi Anton Soedjarwo, periode
1982-1987).
Pada bagian depan Monumen Bhayangkari Teladan Mathilda Batlayeri terukir tulisan yang berbunyi, “KEPADA
PENERUSKU, AKU BHAYANGKARI DAN ANAK-ANAKKU TERKAPAR DI SINI, DI BUMI
KURAU YANG SUNYI, SEMOGA PAHATAN PENGABDIANKU MEMBERI ARTI PADA IBU
PERTIWI”.
(Monumen Bhayangkari Teladan Mathilda Batlayeri)
SUMBER :
Buku Waja Sampai Kaputing
Profil Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan


0 komentar:
Posting Komentar